aroengbinang
pantai burung mandi

Uji Nyali Di Puser Bumi, Gunung Jati Cirebon

Maghrib menjelang ketika saya tiba di Astana Gunung Jati. Kali ini saya sudah berniat untuk bermalam di Gunung Jati. Jangan salah, makam Sunan Gunung Jati terletak di Gunung Sembung seberang jalan Gunung Jati. Gunung Jati yang sesungguhnya berada di sebelah timur. Meski di situ juga banyak makam,  masih sangat banyak pohon-pohon jati yang usianya sudah tua. Barangkali ada yang ratusan tahun melihat ukurannya.

Di sini saya menjumpai pemandu yang saya kenal dalam kunjungan beberapa bulan sebelumnya ke Makam Sunan Gunung Jati. Mas Syamsuddin (41) berkulit gelap, berbadan tegap. Terlihat sebagai sosok yang terlatih dalam olah kedigjayaan, bukan tegap hasil fitness. Ia adalah satu dari 80 pemandu yang ditugasi oleh Keraton secara turun temurun.

Puser Bumi Gunung Jati
Gerbang masuk Gunung Jati

Menurut sejarah, para pemandu dan kuncen di sini adalah keturunan Adipati Keling yang takluk kepada Sunan Gunung Jati dan bersumpah untuk terus mengabdi hingga turun temurun. Hal ini memang diakui oleh Mas Syamsuddin. Keling sendiri adalah orang Tamil dari perbatasan India dan Srilanka.

Di rumahnya yang sangat sederhana, saya menitipkan sepeda motor yang saya pergunakan selama di Cirebon. Di situ saya sempat ditawari sisa air zamzam, entah darimana ia peroleh. Namun bagi saya, air masak di rumah itu lebih berkah. Lagipula air zamzam itu mungkin lebih ia butuhkan daripada saya.

Syamsuddin Puser Bumi Syamsuddin, pemandu keturunan Keling

Dari rumah mas Syamsuddin yang letaknya di balik Gunung Jati, berangkatlah kami menuju lokasi. Ada tiga situs penting di Gunung Jati ini. Yang pertama adalah makam Syekh Nur Jati, guru dari ibu Sunan Gunung Jati. Yang kedua adalah Gua Garba, tempat Syekh Nur Jati ber-I’tikaf alias bersemadhi. Bagi kalangan spiritual, tempat terakhir ini adalah “portal” untuk menuju tempat lain. Semacam lorong waktu, begitulah. Yang terakhir adalah yang biasa disebut “Puser Bumi”. Letaknya di puncak bukit.

Sebagai catatan, yang dimaksud “gunung”, baik Sembung mau pun Jati sebetulnya lebih tepat disebut bukit. Di Puser Bumi inilah saya bermalam. Mendaki bukit ini saja sudah membuat baju basah kuyup oleh keringat. Pohon-pohon raksasa di sekeliling. Meski di jalur tangga utama ada penerangan jalan, namun di Puser Bumi cukup membuat saya tersandung-sandung karena cukup gelap.

Setelah meminta ijin pada kuncen alias juru kunci yang berada di makam Syekh Nur Jati, saya diantar pemandu ke lokasi. Situs Gunung Jati ini dilayani oleh tujuh kuncen yang bertugas bergantian. Masing-masing didampingi beberapa petugas sebagai bawahan.

Beberapa kali pemandu bertanya seolah ingin meyakinkan apakah saya memang lebih suka di Puser Bumi yang gelap itu atau mau di makam Syekh Nur Jati saja yang tertutup dan terang benderang. Satu-satunya kesulitan adalah tiadanya MCK di Gunung Jati. Jika ingin berhajat, kita harus “turun gunung” ke mushalla di bawah sebelah utara. Jadilah saya berbasah kuyup lagi naik turun gunung.


Bordes atas di lihat dari bawah sisi Utara

Kembali ke Puser Bumi di puncak Gunung Jati. Suasana yang sepi, cukup gelap dan pohon-pohon raksasa di sekeliling. Bau kembang setaman sisa penziarah sebelumnya lamat-lamat menyeruak. Burung malam terbang melintas dengan suaranya yang mengiris. Suara tokek terdengar kencang sekali dari atas pepohonan jati. Sempat terpikir sebesar apa tokek di hutan ini. Dzikir yang saya lantunkan dalam hati terus mengiringi perenungan saya.

Sejenak saya melepaskan diri dari pengheningan diri. Sebenarnya jika kita melihat ke bawah bukit, pemandangan lampu-lampu kota mengingatkan pada Dago Tea House dahulu kala sebelum direnovasi.

cirebon di malam hari
Deretan lampu di sebelah kiri adalah Pelabuhan Cirebon, titik merah di kanan adalah Menara Masjid At Taqwa

Ketika tubuh sudah mulai lelah, saya membaringkan diri sambil tak lupa menjaga dzikir. Rasanya cuma sekejap, tiba-tiba terdengar langkah mendekat. Ucapan salam membuat saya bangun segera. Ternyata sepasang peziarah yang datang. Mereka berdua bersimpuh menghadap Puser Bumi yang dikelilingi pagar besi. Lirih mereka membaca doa-doa. Entah apa yang membawa mereka malam-malam ke puncak gunung. Sebatang rokok habis saya hisap, muncul lagi 5 orang. Kelihatannya mereka masih muda-muda. Seorang di antaranya wanita. Seperti peziarah sebelumnya, mereka melakukan hal yang sama.

Ya Tuhan. Sulit sekali mencari tempat yang benar-benar sepi. Di malam gelap begini masih saja ada orang-orang dengan berbagai keperluan mereka. Saya putuskan untuk turun gunung, nanti sekitar tengah malam saya akan kembali ke sini. Jika masih saja ada orang lain, mungkin saya sudahi saja rencana menginap dan kembali ke Cirebon.

Sambil mengisi perut dengan empal gentong yang empuk sekali di warung A-ah beberapa puluh meter ke Selatan, saya sempatkan membuat catatan awal di netbook saya. Dari pemilik warung saya mendapat keterangan bahwa ziarah di Gunung Jati mau pun Gunung Sembung tidak mengenal waktu. Malam hari pun ada saja yang berziarah.

bordes atas Puser Bumi Bordes atas

Sekira pukul setengah sebelas malam saya mulai mendaki lagi. Jalur tangga utama menuju ke atas berpenerangan cukup. Terdapat dua bordes di jalur ini. Bordes adalah bagian dari tangga yang merupakan bidang datar agak luas dan berfungsi sebagai tempat istirahat dalam menapaki tangga. Di bordes atas, jalur terpecah tiga. Menurun ke arah kiri atau utara adalah menuju mushalla di kaki bukit tempat saya menunaikan shalat Isya dan berhajat. Jalan lurus mendatar menuju makam Syekh Nur Jati.

jalur makam
Salah satu sisi bordes yang menuju makam Syekh Nur Jati alias Syekh Dzatul Kahfi.

Ada pun yang terakhir, jalur mendaki ke kanan (Tenggara) menuju ke Puser Bumi.

Puser Bumi Gunung Jati
Dilihat dari bordes atas, Puser Bumi berada di atas dua titik lampu itu. Mengingat kunjungan malam hari, saya kurang memperhatikan arah yang menuju Gua Garba.

Berbeda dengan Gunung Sembung yang merupakan pemakaman khusus Sunan Gunung Jati dan keturunannya yang merupakan keluarga keempat keraton, Gunung Jati adalah Tempat Pemakaman Umum penduduk desa Astana. Almarhum Ismail Saleh, mantan Menteri Kehakiman RI masa Orde Baru juga dimakamkan di TPU Gunung Jati ini. Konon istri almarhum memang masih keluarga keraton Cirebon.

Yang menarik kemudian adalah adanya beberapa orang dari Jakarta yang sanggup membayar berapa pun untuk bisa dimakamkan di sini. Informasi yang saya dapat mengenai alasannya adalah karena pemakaman di sini banyak yang mendoakan, selain relatif dekat dengan makam Sunan Gunung Jati.

bordes
Bordes atas dilihat dari serambi Puser Bumi

AlhamdulilLaah di Puser Bumi saya tidak mendapati lagi penziarah yang datang. Tidak banyak yang terjadi di separuh malam berikutnya di sini kecuali suara tokek yang bersahut-sahutan dari seluruh penjuru hutan. Salah satunya dari arah pohon jati raksasa di kanan depan saya sejauh kurang lebih 25 meter garis lurus. Kencang sekali suaranya seolah ia menggunakan “active speaker”.

puserbumi
Menurut cerita, Syekh Nur Jati alias Syekh Dzatul Kahfi yang menandai tempat ini. Dari lubang di tengah itu, orang biasa mengambil tanah liat yang diyakini keramat.

Tempat ini sangat baik untuk kontemplasi dan memanjatkan doa pada Yang Maha Tunggal. Layaknya di masjid, gereja, vihara, atau di mana pun juga, kita membutuhkan kesunyian dari hiruk pikuknya dunia untuk “menghadap” pada Sang Pencipta. Saya menyadari betul belum mampu untuk “menyepi dalam keramaian”.

Sekira pukul setengah empat, saya mengirim sms pada mas Syamsuddin pemandu saya untuk menjemput. Beliau sempat menunjukkan beberapa titik menarik di tempat ini. Demikianlah setelah saya berpamitan pada juru kunci makam Syekh Nur Jati yang sudah berganti shift, kami menuju ke rumah mas Syamsuddin untuk mengambil sepeda motor yang saya titipkan. Tak lupa saya sempatkan shalat shubuh berjamaah di rumahnya. Saya sempat berbincang sebentar untuk melengkapi data. Ketika fajar sudah mulai menyingsing, saya kembali menuju Cirebon. Sebuah kunjungan yang sangat mengesankan.

Uji Nyali Di Puser Bumi, Gunung Jati Cirebon

Jl. Raya Sunan Gunung Jati Cirebon (lihat Peta)

Kontak: Syamsuddin 0813.1211.9507

Biaya: siapkan pecahan Rp. 1.000,- untuk peminta-minta dan Rp. 5.000,- untuk kotak-kotak amal. Untuk pelayanan ekstra dari juru kunci atau pemandu semisal bermalam atau lainnya, semata berdasarkan keikhlasan Anda.

Terkait Puser Bumi
Tempat Wisata di Cirebon, Hotel di Cirebon





Baca juga:
» Candi Miri di Sleman
» Candi Barong di Sleman



2 Jejak untuk “Uji Nyali Di Puser Bumi, Gunung Jati Cirebon”

  1. bem wiezhanarcho says:

    keren ulasannya, serasa ikut langsung kesana, benar2 mantap ilustrasinya, apalagi pas cerita tokek, sempet kebayang para pencari tokek yg suka jual tokek buat obat, jgn2 tertarik ke gunung jati :)

  2. Diandri Kusumah says:

    SubhanaAlloh!

Tinggalkan Jejakmu