Pulang-pulang Toraja

Sebenarnya saya bingung mau memulai dari mana cerita tentang Toraja. Bolak-balik mencari ide tapi gak menemukan cara yang pas untuk menuliskannya. Ide itu tiba-tiba muncul saat membuka album lama dan menemukan foto salah seorang nenek yang semasa hidupnya penuh canda. Pulang-pulang Toraja! Istilah yang dipopulerkan oleh sang nenek di keluarga ketika beliau akhirnya bisa pulang ke Toraja setelah menghabiskan masa liburan yang cukup panjang di Jakarta. Pulang-pulang Toraja alias mudik! Yup, mari kita mulai dengan cerita mudik yang penuh warna!

Kek pembokat aja mudik, emang loe orang kampung ya Bend? Kek gw donk orang kota ;)”, canda seorang kawan mengomentari status yang saya pasang di jejaring sosial saat bersiap mudik dua tahun lalu. Saya hanya menanggapi dengan senyum, paling dia cuma iri karena gak punya kampung. Mau mudik kemana?

Hasanuddin Airport
Bandar Udara Sultan Hasanuddin, gerbang utama kawasan timur Indonesia.

Mudik dikala semua orang mempunyai jadwal libur dengan tujuan yang sama, gampang-gampang susah. Terlebih bila punya kebiasaan pulang dengan jadwal mepet ;). Tidaklah sukar untuk mencari tiket pesawat Jakarta – Makassar, hanya saja harga yang bagus bisa melambung tinggi di hari-hari tertentu.

Yang rada susah adalah menyesuaikkan dengan tiket bis Makassar-Toraja yang mesti dipesan jauh-jauh hari dan dibayar tunai di tempat karena tak mengenal istilah transfer. Dua tahun berturut-turut, saya selalu kehabisan tiket bis sehingga perlu usaha ekstra untuk mencari tiket yang dibatalkan penumpang lain di pool (oleh warga setempat lebih populer dengan istilah perwakilan). Terlepas dari sport jantung rebutan tiket, i enjoy every second of my trip.

Bintang Prima
Salah satu bis eksekutif yang melayani rute Makassar – Toraja – Makassar

Perwakilan Alam Indah
Suasana jelang keberangkatan bis malam terakhir di perwakilan, deg-degan menunggu satu tiket batal

Toraja, salah satu destinasi pariwisata andalan propinsi Sulawesi Selatan, dapat dicapai dengan berkendara selama 7 – 8 jam perjalanan darat dari Makassar. Perjalanan jauh dengan bis eksekutif atau super eksekutif yang nyaman dan suguhan pemandangan yang menarik di sepanjang jalan membuat waktu tak akan terasa berlalu. Kalau mata pegel, tinggal setel kursinya menjadi tempat tidur, tarik tungkai untuk menaikkan selonjoran kaki, benerin  posisi bantal, rapatkan selimut, zzz…

Jika ingin menikmati pemandangan, naiklah bis pagi! Buat pejalan seperti saya karena gak mau melewatkan waktu dan kesempatan, terbiasa mengambil penerbangan paling pagi dari Jakarta. Sampai di Makassar titip tas dan menumpang mandi di rumah saudara terus lanjut keliling cuci mata sampai sore. Malamnya, baru naik bis terakhir ke Toraja.

Sebelum berangkat, minum anti mabok biar tidurnya lelap saat melewati jalan yang berkelok-kelok. Esok pagi bangun-bangun sudah sampai di depan rumah! Pulangnya pun sama, saya memilih penerbangan pagi pk 7 sehingga bisa berangkat dari Toraja dengan bis malam dan sampai di Jakarta masih ada waktu untuk istirahat sebelum kembali bekerja keesokan paginya. O ya sebelum lelap, jangan lupa titip pesan ke sopir dan kondektur untuk diturunkan di bandara.

Satu kelebihan bis Makassar – Toraja yang belum pernah saya temui di tempat lain, kita pasti diantar sampai ke depan pintu rumah atau penginapan. Memasuki kota tujuan, kondektur akan bertanya ke setiap penumpang yang tersisa di bis mau turun dimana? Dengan catatan, alamat yang dituju tidak masuk gang atau ke pelosok kampung ya!

Kandean Dulang
Kandean Dulang, pusat kota Rantepao di pagi hari

Toraja dibagi atas dua daerah tingkat dua: Tana Toraja dengan ibukota Makale dan Toraja Utara dengan Rantepao. Berada di dataran tinggi sehingga udaranya pun terasa sejuk. Agar lebih praktis, pilihlah penginapan di sekitar kota Rantepao karena dari sini lebih mudah dan dekat ke tempat-tempat wisata.

Sitor
Sitor aka taksi motor, angkutan umum dalam kota

Untuk mendapatkan paket wisata yang lengkap, datanglah di penghujung tahun. Sejak 2009, pemda setempat mengagendakan kegiatan tahunan Lovely Desember (LD) yang diisi dengan beragam atraksi budaya. Upacara adat rambu tuka’ (= acara syukuran seperti pernikahan, pentahbisan rumah adat dll) dan rambu solo’ (=acara pemakaman adat) adalah dua kegiatan yang mempunyai daya tarik bagi wisatawan pun sebagian dirangkai dengan kegiatan LD.

Sedangkan objek wisata bisa dikunjungi setiap hari, diantaranya kuburan batu Lemo, kuburan Londa, kampung adat Pallawa, kampung adat Ke’te Kesu, Batutumonga, Lo’ko Mata, pasar Bolu dan lain sebagainya.

Gadis Toraja
Senyum manis gadis Toraja dalam balutan busana adat menjadi penyambut tamu di acara Rambu Solo’.

Tak punya waktu banyak dan tergoda untuk mengunjungi Toraja? Jangan pernah ragu memilih short trip dengan mengambil bis malam dari Makassar dan kembali keesokan malamnya.Turunlah di perwakilan bis Rantepao, begitu hari mulai terang anda bisa mencari motor sewa atau ojek untuk berkeliling ke tempat wisata yang ada di sekitar Rantepao.

Bila beruntung, tidak mustahil di perjalanan anda akan menjumpai upacara adat setempat. Yang perlu diperhatikan bila mengambil trip pendek adalah stamina serta kekurangannya tidak akan maksimal untuk menikmati sajian wisata lainnya. Tunggu apalagi? Segera bereskan ranselmu!

Pulang-pulang Toraja

Tana Toraja, Toraja Utara
Sulawesi Selatan

Transportasi
Rekomendasi bis yang melayani rute Makassar – Toraja: Bintang Prima, Bintang Timur, Charisma, Fa Litha, Liman, Metro Permai

Tarif bis : Rp 80,000 – Rp 165,000/penumpang, tergantung jadwal keberangkatan, jenis bis serta kepadatan arus mudik. yang pasti tarif melonjak jelang Natal & Tahun Baru.

Angkutan umum untuk berkeliling kota dan ke tempat wisata: sitor (Rp 3,000 – Rp 5,000), sewa motor atau naik ojek (Rp 80,000 – Rp 100,000), pete-pete/angkot (Rp 3,000 – Rp 5,000)

Penginapan
Homestay hingga hotel bintang empat (tarif per malam Rp 80,000 – Rp 2,500,000, tergantung tipe kamar). Lihat pula tulisan Hotel di Toraja, dan Tempat Wisata di Toraja.

Share on Facebook ~ Tweet ~ Print This! ~ Share via Email