Museum Geologi Bandung Yang Mengesankan
Koleksi Museum Geologi Bandung sungguh sangat mengesankan hati ketika saya pertama kali mengunjungi museum ini sekitar pertengahan tahun 80-an. Karenanya, ada dorongan keinginan kuat untuk kembali mengunjungi museum ini ketika tengah mengambil cuti dan pergi ke Bandung untuk tugas seorang ayah.
Terima kasih kepada Muthe dan temannya Danilah yang tomboy, yang berbaik hati menemani pergi ke Museum Geologi Bandung ini.
Museum Geologi Bandung terletak di Jl. Diponegoro 57, tidak jauh dari lapangan Gasibu dan Gedung Sate. Satu-satunya yang perlu dilakukan pengunjung ketika memasuki gedung Museum Geologi Bandung adalah mengisi buku tamu. Tidak dipungut bayaran untuk masuk ke dalam Museum Geologi Bandung. Anda bahkan akan menerima senyum ramah gratis dari penjaga museum. Pada pintu masuk, terbaca tulisan bahwa anda bisa memotret asalkan bukan untuk tujuan komersial.
Di bawah ini adalah foto dari sebagian koleksi yang berharga yang bisa ditemukan di dalam Museum Geologi Bandung.

Ketika saya kunjungi kondisi Museum Geologi Bandung sangat bersih dan koleksinya terawat dengan baik. Museum Geologi mengalami renovasi besar sekitar 7 tahun lalu dengan bantuan pendanaan dari JICA.

Koleksi fosil Ammonoid (berbentuk spiral) dan Nautiloid (berbentuk lurus) di Museum Geologi Bandung. Ammonoid adalah sejenis hewan invertebrata laut mirip cumi-cumi raksasa bercangkang dari subkelas Ammonoidea, Kelas Chepalopoda, yang telah mengalami kepunahan bersamaan dengan dinosaurus sekitar 65 juta tahun lalu.

Kerangka berbagai jenis binatang yang telah punah maupun yang masih ada. Koleksi kerangka binatang Museum Geologi Bandungini sangat mengesankan, salah satunya adalah Kerbau Purba ini.
Kerbau Purba (Bubalus palaeokerabau, hidup pada jaman tersier 6,5 juta – 1,5 juta tahun lalu), ditemukan Eugene Dubois di Pulau Jawa pada 1891, diduga merupakan spesies asli Indonesia. Berat Kerbau Purba ini bisa mencapai 1,2 ton, panjang 3 m, dengan ekor 1 m, sementara panjang tanduknya bisa sampai 2 m.

Sebuah koleksi Museum Geologi Bandung berupa fosil ular Python reticulatus, yang telah berusia 30.000 – 40.000 tahun. Ular Sanca Kembang (ular sawah, sawah-n-etem, ular petola) merupakan jenis ular tak berbisa berukuran besar dengan panjang bisa melebihi 10 m.
Pada punggungnya terdapat lingkaran-lingkaran besar seperti jala (reticula berarti jala) berwarna hitam, kecoklatan, kuning, putih. Dari moncong kepalanya sampai tengkuk ada garis hitam tipis membagi kepala secara simetris, serta ada satu garis hitam lebih tebal pada masing-masing sisi kepala melewati mata ke arah belakang.

Sebuah rekonstruksi kerangka fosil Kuda Nil primitif di Museum Geologi yang berukuran lebih kecil dari kerbau (Hexaprotodon simplex), yaitu binatang migran dari Asia pada jaman Pleistosen (1.808.000 hingga 11.500 tahun yang lalu), selain Mastodon (Sinomastodon bumiayuensis, sejenis gajah primitif), serta Kura-kura raksasa (Megalochelys sp). Fosil ketiga binatang purba itu ditemukan di Satir, Bumiayu, Jawa Tengah.
Baca juga:
» Patung Pak Tani di Menteng Jakarta
» Monumen Kebulatan Tekad Rengasdengklok

Telah menerbitkan 574 tulisan di Travelog sejak March 2010. Lihat tulisan lain Bambang Aroengbinang, subscribe via Feedburner, atau follow @aroengbinang untuk mendapat kabar setiap terbit tulisan baru.

menariikkk!
setuju….! :)
ya betulll…
:D
Wah sangat membantu saya dalam mengerjakan kliping saya TERIMAKASIH
Terima kasih kembali….
bisa ajak anak nih..mantabs..
kreenz broo
ane mau ngasih usul nih
gmana kalo ditambah lag gmbar+pnjelasannya
tapi dah mantap kok
mkasih broo cukup ngebantu
:D
dateng y ke blog ane mikhaelrangkang.mywapblog
okeh, sip, makasih ya… lanjut terus nulisnya… :)