Masjid Besar Mataram di Kotagede Jogja
Masjid Besar Mataram di Kotagede, Bantul, adalah tempat pertama yang saya kunjungi pada pagi itu ditemani oleh Pak Agus (087739187935), supir mobil sewaan yang saya hubungi sehari sebelumnya dengan harga sewa yang sangat kompetitif. Harga hari kerja dan bukan di musim libur sekolah.
Sewa 12 jam untuk mobil Xenia hanya Rp.175.000, supir Rp.50.000 (biasanya 75-100 ribu), bensin sehari Rp.80.000, makan (bersama), dan tips sejumlah honornya. Selain menemani jalan, Pak Agus juga sangat membantu dengan membawakan ransel kamera.
Sebenarnya ada keinginan untuk juga mengunjungi daerah Gunung Kidul, namun sayang Pak Agus tidak mengenal baik wilayah itu. Sedangkan supir yang mengenal daerah Gunung Kidul tengah digunakan oleh penyewa lainnya. Alhasil selama tiga hari kami berkeliling di daerah Bantul, dan sebagian Sleman.
Sempat saya sampaikan, jika saja pemilik mobil membeli peralatan GPS yang harganya sudah lumayan murah, maka setiap supir akan bisa menemani tamu kemana pun mereka ingin pergi. Sayang saat itu pun saya juga tidak membawa GPS, kecuali Blackberry yang hanya saya pakai untuk menandai GPS saja karena tidak begitu bisa dipercaya sebagai pemandu jalan.
Setelah memberikan data-data tempat yang ingin dikunjungi, berdasarkan catatan ringkas saya di tulisan Tempat Wisata Bantul, saya pun menyerahkan kepada Pak Agus untuk mengatur rute perjalanannya. Tidak semua tempat ia pernah kunjungi, namun umumnya ia tahu daerahnya dan bisa bertanya dari sana.
Karena semalam saya menginap di rumah keponakan di daerah Kotagede, maka kunjungan pun dimulai dari sana, dan Kompleks Makam Pendiri Kerajaan Mataram dimana Masjid Besar Mataram berada merupakan tempat pertama yang kami kunjungi.

Hal pertama yang sangat menarik perhatian ketika turun di tempat parkir, beberapa puluh meter dari Masjid Besar Mataram, adalah suasana sangat teduh yang diberikan oleh sebuah pohon beringin berukuran raksasa berusia ratusan tahun yang dikenal dengan nama Wringin Sepuh. Ada kepercayaan bahwa jika bertapa di bawah Wringin Sepuh dan jatuh dua lembar daun, satu telungkup dan satu telentang, maka akan terkabul doanya. Mungkin ini sebenarnya adalah perlambang, bahwa siapa pun yang bekerja keras dari telentang sampai telungkup memohon petunjuk maka usahanya pasti akan membuahkan hasil.
Suasana masih sepi ketika saya melangkah menuju gerbang masuk berbentuk paduraksa (bersambung di bagian atas gerbang) yang terbuat dari batu bata, melewati deretan rumah di kiri kanan. Tidak ada penjaga, mungkin karena hari itu kompleks Makam dan Masjid tidak dibuka, dan itu baru saya ketahui belakangan.
Di bagian depan gapura ada tembok berbentuk L dengan pahatan lambang kerajaan. Gapura paduraksa dan tembok L itu merupakan bentuk apresiasi Sultan Agung kepada pemeluk agama Hindu dan Budha yang ikut ambil bagian dalam membangun masjid. Di belakang gapura terdapat tembok kelir dengan panjang 5,7 m dan tinggi 2,5 m, yang berfungsi sebagai penghalang pandangan dari luar ke arah masjid.

Di balik gapura terdapat halaman luas, diteduhi dengan cukup banyak pepohonan, dan menghadap gapura atau ke ke Timur adalah bagian depan Masjid Besar Mataram yang dikelelilingi tembok putih rendah, dengan gapura serta pagar bercat hijau terbuat dari kayu jati.
Pada kayu terdapat ukiran kaligrafi Arab berbentuk bulan sabit di dalam lingkaran, diapit dua buah kaligrafi lainnya di kiri-kanan berbentuk segitiga dengan dengan dasar rata dan salah satu sisi mengikuti bentuk lingkaran. Di bawah kaligrafi terdapat ukiran angka tahun, yaitu 1856 dan 1926.
Angka 1856 merupakan tahun dimana dilakukan penambahan emperan dan pewudhon, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Pakubuwono X.
Masjid Besar Mataram, atau Masjid Gede Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Gede Pemanahan, ayah Penembahan Senopati. Pada 1587, tiga tahun setelah Ki Gede meninggal (ada yang menyebut ia meninggal tahun 1575), Penembahan Senopati mengembangkannya menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab.
Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, sebagian wilayah Kotagede berada dibawah Kasunanan Surakarta dan sebagian lagi dibawah Kasultanan Yogyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Besar Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.
Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian pada 2002 dilakukan renovasi besar dengan memasang marmer Italia di liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) dengan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, serta perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.
Tugu menyerupai candi di halaman depan Masjid Besar Mataram yang dibangun pada 1926 oleh Pakubuwono X, dengan jam di dalam dan di luar pada sisi yang berbeda.
Saya pun melangkah ke sisi utara masjid dimana terdapat jalan masuk ke serambi yang tidak terkunci, melewati pawudhon di sebelah kanan. Satu pawudhon lagi ada di sisi selatan masjid. Di sisi Utara ini juga terdapat sebuah gapura paduraksa dengan puncak dan sayap utuh terbuat dari batu kapur. Ada satu lagi gapura di sisi selatan dengan lima buah anak tangga menuju ke kompleks makam.

Bedug besar di serambi Masjid Besar Mataram yang panjangnya 184 dan diameter 85 cm, serta sebuah kentongan menggantung di sampingnya yang berukuran 114 cm dan diameter 40 cm. Bedug ini adalah hadiah dari Nyai Pringgit dari Desa Dondong, Kabupaten Kulon Progo, sehingga keturunan Nyai Pringgit diberi hak oleh keraton untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian disebut Dondongan.

Serambi Masjid Besar Mataram yang berukuran 20 × 12 m, terlihat indah dan anggun ditopang oleh 26 buah tiang kayu Jati. Di sekeliling serambi ini terdapat jagang atau kolam air sedalam 60 cm dan lebar 185 cm yang dulunya digunakan untuk bersuci sebelum naik ke serambi.
Baca juga:
» Vihara Dharmayana Kuta Bali
» Eloknya Gili Trawangan Lombok

Telah menerbitkan 574 tulisan di Travelog sejak March 2010. Lihat tulisan lain Bambang Aroengbinang, subscribe via Feedburner, atau follow @aroengbinang untuk mendapat kabar setiap terbit tulisan baru.
