aroengbinang
pantai burung mandi

Berkunjung ke Pulau Galang Batam

Pulau Galang adalah salah satu pilihan objek wisata yang bisa dikunjungi di Batam. Tidak banyak spot memang, selain sebagai suatu kepulauan, objek wisata lainnya didominasi oleh pantai. Mungkin ada beberapa spot pantai indah yang menghadap langsung ke Singapore, tetapi sayangnya saya belum sempat untuk menjelajahinya.

Batam memang dikenal sebagai pulau yang kebanyakan dihuni oleh para pendatang sehingga secara  budayapun mereka lebih didominasi oleh budaya para pendatang seperti Minangkabau. Masyarakatnya kebanyakan bekerja di pusat-pusat industri sebagai buruh pabrik dengan upah yang murah.

Sebagai suatu kota besar, biaya hidup di Batam hampir sama dengan Jakarta. Di Indonesia sendiri, Batam lebih dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang murah karena banyak barang bermerk yang bebas dari pajak seperti tas, parfum, peralatan elektronik dsb. Walaupun menurut saya tidak jauh beda dengan Mangga Dua.

Masyarakat kelas menengah disana  lebih akrab untuk berjalan-jalan menghabiskan akhir pekan ke Singapore daripada ke kota lainnya yang terdekat di wilayah Sumatra, tetapi sebaliknya para buruh lebih suka menghabiskan waktu mereka di Jembatan Barelang ataupun sekedar nongkrong di kawasan perbelanjaan Nagoya.

Baiklah sebelum catatan perjalanan ini berubah menjadi suatu laporan penelitian, saya akan bercerita sedikit kesan mengenai Pulau Galang yang memang diniatkan untuk dikunjungi.

Kedatangan ke Batam kali ini dalam rangka bekerja, membawa seorang India untuk suatu penelitian mengenai Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia. Apalah yang bisa saya tawarkan sebagai tuan rumah mengenai budaya dan ciri khas di Batam, maka satu-satunya yang menarik menurut saya adalah Pulau Galang.

Untuk sampai di Pulau Galang, kita harus melewati enam jembatan yang menghubungkan tiga pulau, jembatan ini dinamakan Barelang (Batam, Rempang dan Galang). Katanya ini proyek Presiden Habibie dalam menjadikan Batam sebagai suatu kawasan Ekonomi Khusus yang terpadu, tetapi seperti layaknya pemerintahan Indonesia, berganti kepemimpinan maka berganti  pula kebijakan, dan jadilah proyek ini hanya sebagai objek wisata tanpa adanya pembangunan lanjutan terhadap tiga pulau ini.

Pulau Galang
Jembatan pertama Barelang dengan kawat-kawat baja konsentris yang menjadi pemandangan indah bagi para pejalan.

Para wisatawan lokal dan abege biasanya hanya mencapai jembatan pertama sampai ketiga yang letaknya berdekatan. Sementara untuk sampai ke ujung rasanya tidak banyak yang mencoba. Padahal di ujung pulau Galang terdapat pantai yang sangat indah, namanya Pantai Melur.

Memasuki camp bekas pengungsi Vietnam di Pulau Galang memang agak menyeramkan karena seperti kota mati yang ditinggalkan penghuninya. Camp ini pada dahulunya dikelola oleh Badan PBB yang khusus menangani pengungsi, UNHCR. Tidak heran pendataan para pengungsi disini terlihat rapi. Bisa dilihat dari foto-foto dan kartu volunteer untuk para guru demi kepentingan administrasi.

Pulau Galang ini diibaratkan sebagai suatu kota kecil yang dilengkapi dengan Rumah Sakit, Penjara, Gereja, Vihara, Sekolah dan bahkan Fitness Centre! Di lain hal, pembentukan kota kecil ini bisa jadi untuk “mengisolasi” para pengungsi yang pada saat itu terserang wabah penyakit sehingga penduduk asli di wilayah Batam tidak tertular oleh virus yang dibawa oleh pengungsi.

Pulau Galang
Chua Ky Vien Pagoda yang berada di kamp Pengungsian Orang Vietnam di Pulau Galang.

Para pengungsi ini terdampar di Pulang Galang sekitar tahun 1979, setelah berbulan-bulan berlayar tidak tentu arah di laut China Selatan. Jumlah mereka cukup besar yaitu sekitar 250.000 orang dengan beberapa kali gelombang kedatangan. Sebagian dari mereka ada yang meninggal di Pulau Galang, ada yang meminta suaka ke negara lain, ada yang bertahan dan ada yang meminta kembali ke Vietnam. Semua ditangani oleh UNHCR dengan bekerjasama dengan pemerintah Indonesia sampai dengan tahun 1996.

Perang Vietnam atau dikenal juga sebagai Perang Indochina Kedua berakhir tahun 1975, ditandai dengan kejatuhan Saigon dan penyatuan terhadap Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, dan memakan banyak korban. Para pengungsi ini banyak melarikan diri (dan diterima secara legal) di Negara seperti Amerika, Kanada, Australia dan Perancis. Sebagian lagi yang tidak diterima memilih untuk melarikan diri dengan kapal tradisional, termasuklah yang terdampar di Pulau galang ini.

Tindakan kriminal seperti pemerkosaan menjadi permasalahan yang  terjadi antar sesama pengungsi. Tidak heran memang, tingkat stress dan frustrasi tentu menyebabkan para pengungsi ini mengambil tindakan bodoh. Untuk memperingati seorang perempuan yang diperkosa oleh sesama pengungsi maka dibangunlah Humanity Statue yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1985.

Pulau Galang
Humanity Statue, lengkap dengan ukiran nama pembuatnya, nomor kapal yang membawanya, serta nomor ID-nya.

Agak berjalan sedikit dari Humanity Statue saya melihat kompleks pemakaman bernama Nghia-Trang. Ini apa saya yang penakut atau memang kuburannya agak spooky ya? Beberapa kuburan memang tidak terawat dan dibiarkan terlantar tetapi ada beberapa yang diperbaharui dan dicat. Mungkin yang baru dicat ini dikunjungi oleh keturunan para pengungsi atau bahkan para pengungsi itu sendiri.

Mereka masih setia mendatangi pulau ini setahun sekali untuk bereuni. Reuni terakhir besar-besaran adalah tahun 2005, demikian yang terlihat di foto yang terpampang di Kantor Komando Satuan Pengamanan Pulau Galang yang dijadikan sebagai pusat informasi sejarah pulau Galang.

Pulau Galang
Kompleks pekuburan Nghia-Trang di Pulau Galang yang “spooky” itu.

Saya terkesan dengan kata-kata yang ditulis dalam empat bahasa di depan komplek pemakaman ini yang bertuliskan :
“Dipersembahkan kepada para pengungsi yang meninggal dunia pada waktu perjalanan menuju kebebasan”.  

Betapa mahal harga sebuah kebebasan bagi para pengungsi ini.

Udara panas Batam siang itu tidak menyurutkan semangat saya dan teman dari India itu dalam mencari tahu sejarah Pulau Galang. Kami meneruskan perjalanan dan mendatangi Kantor Pengamanan Pulau Galang. Di kantor pengamanan inilah yang menjadi pusat informasi sejarah keberadaan Pulau Galang.

Koleksi mereka cukup lengkap, beberapa yang menarik perhatian adalah foto-foto kegiatan pengungsi yang dimulai dari pendataan, kegiatan selama di pengungsian sampai pemulangan mereka. Beberapa foto juga memperlihatkan Presiden Soeharto dan Habibie datang mengunjungi para pengungsi ini. Beberapa patung bunda maria dan pahatan kecil yang bertuliskan “Ta On Duc Me” juga menjadi objek foto yang menarik.

Pulau Galang
Foto kunjungan Habibie ke Pulau Galang koleksi Kantor Pengamanan Pulau Galang.

Pulau Galang
Foto papan nama yang ditemukan di depan rumah para pengungsi.

Kamp pengungsi ini cukup menarik untuk dikunjungi karena saya kira tidak banyak objek wisata budaya yang ada di Batam dan Kepulauan Riau pada umumnya. Pemerintah daerah harusnya menyadari hal ini dengan memberikan perhatian khusus seperti perawatan dan mempromosikannya.

Untuk aksesibilitas, sama seperti permasalahan klasik yang dihadapi objek wisata lainnya di Indonesia, yaitu tidak adanya transportasi publik kesana. Kalau mau datang, ya harus menggunakan kendaraan pribadi, bayangkan saja mengelilingi kawasan pengungsi yang terletak di tengah hutan dengan berjalan kaki! Tampaknya masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh pemda dan dinas terkait setempat.

Pulau Galang

Batam, Kepulauan Riau
GPS: 0.7678609, 104.1903019

Terkait Pulau Galang
Tempat Wisata di Batam, Hotel di Batam





Baca juga:
» Makam Syekh Maulana Maghribi Bantul Jogja
» Air Panas Parang Wedang Bantul Jogja



Tinggalkan Jejakmu